Rabu, 17 Oktober 2012

Mengukur Kekuatan Kandidat Gubernur Sumatera Selatan 2013-2018

Genderang Pemilihan Gubernur (Pilgub) sudah ditabuh sejak beberapa bulan lalu. Kini, peta kekuatan masing-masing kandidat sudah mulai mengerucut. Setidaknya ada lima hingga delapan nama yang mencuat ke permukaan. Sebut saja incumbent Gubernur Sumsel H Alex Noerdin, Wali Kota Palembang H Eddy Santana Putra, Bupati OKI H Ishak Mekki, Bupati OKU Timur H Herman Deru, Bupati Musi Rawas H Ridwan Mukti, dan Wakil Gubernur Sumsel H Eddy Yusuf. Beberapa lain muncul sebagai calon independen, seperti mantan Pankostrad TNI yang kini jadi Komisaris PT Pusri, Letjen TNI (purn) Burhanuddin Amin, dan mantan Kabareskrim Mabes Polri, Komjen Pol Susno Duadji.

Nama yang paling intens muncul di media dan diperkirakan memiliki kekuatan terbesar ada pada Alex Noerdin, Eddy Santana, Ishak Mekki, dan Herman Deru. Hanya saja belum ada survei yang menyatakan dukungan signifikan untuk para bakal calon gubernur Sumsel periode 2013-2018 tersebut. Beberapa pengamat politik yang juga akademisi malah melihat kekuatan para calon dari apa yang sudah mereka lakukan selama ini ketika menjadi kepala daerah. Maklum, beberapa nama yang mulai mengisi ruang publik hampir rata-rata kepala daerah aktif yang juga impinan parpol atau ormas di Sumsel.

Pengamat politik dari Universitas Sriwijaya, Dra Diah Hapsari ENH MSi mengatakan, kekuatan kandidat belum belum bisa dikatakan signifikan tanpa ada kajian ilmiah melalui survei. "Saya belum bisa sebutkan siapa yang paling kuat dan siapa yang kurang. Sebab, semua harus melalui kajian survei," kata Diah kepada Sumatera Ekspres, kemarin.

Selain itu, Lanjut Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) tersebut, hampir semua kandidat sudah melakukan sosialisasi untuk merebut hati rakyat. "Kita lihat pendidikan politik di Sumsel sudah mulai dewasa. Tampak di banner-banner, spanduk, kunjungan di lapangan dan sosialisasi tampil di media massa," kata Diah.

Pengamat dari IAIN Raden Fatah, Prof Dr Ris'an Rusli MA mengatakan, kandidat yang diperkirakan mendapat hati di masyarakat yaitu kandidat yang sudah melaksanakan amanah dengan baik. "Masyarakat kita sudah pandai menilai mana calon pemimpin yang baik mana yang hanya kamuflase. Saat ini yang terpenting jualan program. Jualan agama malah tidak terlalu laku lagi," ujar pria yang menjabat Direktur Pascasarjana IAIN Raden Fatah Palembang itu.

Ris'an mengatakan, kandidat perlu menampilkan kesederhanaan tidak bermewah-mewah. "Coba perhatikan fenomena Jokowi di DKI. Dia menunjukkan program apa yang akan lakukan ketika dipilih, bagaimana cara dia memperjuangkan rakyat kecil di bantaran Sungai Ciliwung Jakarta, dan bagaimana pedagang kaki lima akan dicerahkan nasibnya," ujarnya.

Pengamat politik Dr Andries Lionardo SIP MSi menilai, kandidat harus memiliki instrumen atau indikator agar bisa dipilih. Hanya saja, dia yakin pertarungan Pilgub Sumsel 2013 bakal seru dan panas. Soalnya masing-masing kandidat mempunyai lumbung massa dan jarinngan yang hebat-hebat.

Menurut Andries, minimal ada empat hal yang harus diperhatikan masing-masing kandidat. Pertama, apa yang telah diperbuat oleh masing-masing kandidat ketika menjadi kepala daerah. "Kan nama-nama yang muncul sebagai calon gubernur sekarang rata-rata sedang menjadi kepala daerah. Jadi masyarakat sudah tahu apa yang mereka lakukan, mengena untuk masyarakat dan yang tidak mengena untuk masyarakat," ujarnya.

Dia mencontohkan, Eddy Santana unggul di bidang sektor transportasi dengan adanya TransMusi. Herman Deru unggul dengan program pertanian. Alex Noerdin unggul dengan program kesehatan dan pendidikan gratis. "Masyarakat pasti bisa melakukan evaluasi terhadap kebijakan publik yang dilakukan ole para kandidat selama menjabat kepala daerah, bupati, atau gubernur," kata Andries.

Kedua, dilihat dari dukungan parpol. "Walaupun citra parpol sekarang sedang diragukan karena ada kesan hanya mencari duit, namun mesin parpol masih efektif untuk menggerakkan massa . Parpol masih menjadi andalan untuk membantu mendongkrak simpati masyarakat untuk kandidat," kata dia.

Ketiga, pendidikan politik bagi rakyat. Pendidikan politik itu dilihat dari visi misi atau program ke depan. Apa yang akan dijual kepada masyarakat? Kandidat harus benar-bennar menyampaikan program secara riil, bukan kamuflase. Sebab, lanjut Andries, rakyat sudah tahu janji kandidat hanya bualan atau program nyata tulus keluar dari hati. "rakyat kita sudah pintar." Dia mencontohkan, Alex Noerdin mempunyai peluang karena incumbent, dia ketua partai Golkar Sumsel, serta memiliki program kesehatan gratis dan pendidikan gratis. "Masyarakat sendiri yang bisa mengevaluasi atasprogram yang yang sudah digulirkan selama ini," kata Dosen FISiP Unsri itu.

Contoh lain, Eddy Santana. Dia memiliki mempunyai kelebihan sukses membaawa Kota Palembang makin maju, hanya saja Eddy kurang populer di pedesaan. "Makanya mesin parpol juga mempengaruhi untuk Eddy di luar kota," ulasnya. Untuk Herman Deru, kata Andries, mempunyai keunggulan karena menjadikan kabupateen pemekaran OKU Timur menjadi salah satu kabupaten lumbung pangan nasional. Hal serupa terjadi pada Ridwan Mukti, daerahnya berhasil menjadi salah satu penghasil beras untuk cadangan nasional. Begitu pula Ishak Mekki, dia memiliki jaringan parpol Demokrat hingga kepelosok desa. "Memang Ishak bellum dikenal merata di Sumsel, tapi mesin parpol yang harus bergerak," ujarnya. Untuk Eddy Yusuf, walau bukan ketua parpol atau ormas di Sumsel, namun Eddy Yusuf pernah menjadi Bupati di OKU. Eddy juga sedang menjabat Wakil Gubrnur. Hanya saja program Eddy Yusuf tidak kelihatan karena dinilai mengekor satu paket dengan program gubernur.

Keempat, faktor yang mempengaruhi masyarakat ialah calon wakil gubernur, yang akan menjadi pasangan kandidat gubernur. "Calon wakil gubernur juga penting. Apakah dia berasal dari parpol, gendernya apa, birokrat, pengusaha, tokoh agama, politisi, pebisnis sdan sebagainya. Jangan anggap enteng calon wakil gubernur, karena pasangan bisa mberpengaruh besar untuk membantu mendulang suara," pungkasnya. (asm/ce1)

No 1. Ir H Alex Noerdin SH



Kekuatan:
- Incumbent Gubernur Sumsel

- Ketua DPD Golkar Sumsel

- Basis massa antara lain di Empat Lawang, Lahat, Muba, Pagaralam, Muara Enim

- Mempunyai program Sekolah Gratis dan Kesehatan Gratis

- Sukses menjadi tuan rumah SEA Games 2011

Kelemahan:
- Kalah dalam pemilukada DKI

- Kurang basis massa di Komering

- Belum sampaikan program 2013-2018 (Basemah, Lematang, dan Musi)
No 2. Ir H Eddy Santana Putra MT



Kekuatan:
- Wali Kota Palembang

- Ketua DPD PDI Perjuangan Sumsel

- Basis massa di Palembang, OKI, OI, Banyuasin dan Lematang (Komering dan Musi)

- Sukses dengan Piala Adipura 6 kali berturut-turut

- Terkenal luas di Palembang sebagai basis kekuatan massa

- Sukses dengan program transportasi publik dan perumahan rakyat

Kelemahan:
- Kurang terkenal di pedesaan

- Kurang basis di Besemah

- Belum sampaikan program 2013-2018
No 3. H Herman Deru SH MH



Kekuatan:
- Bupati OKU Timur

- Ketua Ormas Nasdem Sumsel

- Sukses dalam program Lumbung Pangan Nasional

- Mempunyai basis massa di Komering, seperti OKU Timur, OKU, OKU Selatan, OKI

Kelemahan:
- Tidak memiliki parpol sendiri

- Kurang basis massa di kota, Musi, Besemah, dan Lematang

- Belum sampaikan program 2013-2018
No 4. Ir H Ishak Mekki MM



Kekuatan:
- Bupati Ogan Komering Ilir

- Mantan anggota DPR RI

- Ketua DPP Partai Demokrat Sumsel

- Sukses dengan program dan kesehatan gratis

- Memiliki basis massa di Komering, OKI dan OI

Kelemahan:
Kurang terkenal di pedesaan selain OKI dan OI

- Kurang terkenal di Kota Palembang

- Belum sampaikan program 2013-2018
No 5. H Ridwan Mukti SH MH



Kekuatan:
- Bupati Musi Rawas

- Mantan anggota DPR RI

- Ketua DPP Partai Golkar

- Mempunyai basis massa di Musi, Mura dan Lubuklinggau
- Ketua ICMI Sumsel

Kelemahan:
- Kurang terkenal di Kota Palembang

- Belum sampaikan program 2013-2018
N0 6. H Eddy Yusuf SH MH



Kekuatan:
- Wakil Gubernur Sumsel

- Mantan Bupati OKU

- Memiliki basis massa di Komering, OKU dan OKI, Lematang, dan Musi

- Tidak sebagai ketua partai

Kelemahan:
- Kurang dikenal programnya, karena terkesan mengikuti program gubernur (satu paket)

- Tidak memiliki basis massa di Besemah

- Belum sampaikan program 2013-2018


Sumatera Ekspres, Selasa, 16 Oktober 2012

0 komentar:

Posting Komentar