Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Desember 2012

Masjid Agung, Lambang Kejayaan Islam di Palembang

Oleh: Adis Oktaviani

Masjid Agung dibangun kali pertama oleh Sultan Mahmud Badaruddin I atau Pangeran Jayo Wikramo pada 1 Jumadil Akhir 1151 H atau 1738 masehi. Bangunan ini berdiri di belakang Benteng Kuto Besak, istana Sultan yang dulunya terletak di suatu pulau yang dikelilingi sungai Musi, sungai Sekanak, sungai Tengkuruk, dan sungai Kapuran.

Bangunan Masjid kali pertama dibangun berukuran hampir berbentuk persegi empat yakni 30 meter x 36 meter. Keempat sisi bangunan ini terdapat empat penampilan yang berfungsi sebagai pintu masuk, kecuali di bagian barat yang merupakan mihrab.

Atapnya berbentuk atap tumpung, terdiri dari tiga tingkat yang melambangkan filosofi keagamaan, atap berundak adalah pengaruh dari candi.

Bahan-bahan yang dipergunakan adalah bahan kelas satu dari Tiongkok dan Eropa. Arsiteknya atau para pekerjanya berasal dari Tiongkok.

Lantaran sulitnya mendatangkan material bangunan, maka pekerjaan ini cukup lama dan masjid baru selesai dikerjakan dan diresmikan pada Tanggal 28 Jumadil awal 1161 H atau 26 Mei 1748 M.

Pada awalnya Masjid ini tidak mempunyai menara. Baru pada tahun 1753 dibuat menara yang beratap genteng, dan tahun 1821 berganti atap sirap dan penambahan tinggi menara yang dilengkapi dengan beranda lingkar.

Setelah 100 tahun lebih berdirinya masjid yaitu tahun 1848 diadakan rencana perluasan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda, sebelum perluasan diadakan perubahan bentuk gerbang serambi masuk dari bentuk tradisional menjadi bentuk Doric.

Pada tahun 1879 telah diadakan perunbahan masjid, perluasan bentuk gerbang serambi masuk dibongkar ditambanh serambi yang terbuka dengan tiang benton bulat sehingga bentuknya seperti Pendopo atau seperti gaya banguan kolonial ini adalah perluasan pertama dan penambahan rancangan. Tahun 1874 dilaporkan bentuk menara berubah dari aslinya, dan tahun 1916 menara ini disempurnakan lagi.

Pada tahun 1930 diadakan perubahan yaitu menambah jarak pilar menjadi 4 meter dari atap. Setelah kemerdekaan, tahun 1952 dilakukan perluasan ketiga dengan bentuk yang tidak lagi harmonis dengan aslinya dengan ditambah kubah.

Pengurus yayasan masjid agung 1966 -1979 meneruskan penambahan ruangan dengan menambah bangunan lantai 2, yang selesai tahun 1969. Pada tanggal 22 januari 1970 dimulai pembanguan menara baru dengan tinggi 45 meter, bersegi 12 yang dibiayai Pertamina dan di resmikan pada tanggal 1 Februari 1971.

Sejak tahun 2000 masjid ini di renovasi dan selesai pada tanggal 16 Juni 2003 yang diresmikan oleh Presiden RI Megawati Soekarno Putri.

Berita Musi

Minggu, 04 Maret 2012

Kampung Kapten Arab “Al Munawar”

Oleh : SUMARDONI

KAMPUNG Arab Al-Munawar yang terletak di kawasan 13 Ulu, Palembang, ini memiliki kekhasan seperti halnya perkampungan tua di tepian sungai. Kampung Al Munawar terletak di tepian sungai Musi dan sungai Ketemenggungan. Di kompleks ini, terdapat paling kurang delapan rumah yang usianya diperkirakan lebih dari satu abad. Salah satunya, rumah pemukim Arab pertama di Kampung 13 Ulu, Habib Abdurrahman Al Munawar. Inilah kampung Kapten Arab di Palembang. Kampung ini bersamaan dengan kampung Kapiten Cina di 7 Ulu, dan Kapten India di Kertapati, Palembang.

Keseluruhan rumah berkonstruksi panggung. Sebagian, tetap berbentuk panggung, menggunakan bahan kayu unglen atau sebagian kayu unglen, atau juga sebagian batu. Sebagian lagi, menggunakan bahan batu secara keseluruhan.

Menengok ke Belakang "Gending Sriwijaya"

Oleh: Erwan Suryanegara

  • Di kala ku merindukan keluhuran dulu kala.

  • Kutembangkan nyanyi dari lagu Gending Sriwijaya.

  • Dalam seni kunikmatkan lagi zaman bahagia.

  • Kuciptakan kembali dari kandungan Mahakala

  • Sriwijaya dengan asrama agung Sang Mahaguru.

  • Tutur sabda dharma phala satya khirti dharma khirti.

  • Berkumandang dari puncaknya Siguntang Maha Meru.

  • Menaburkan tuntunan suci Gautama Buddha Shanti.


  • Demikianlah, isi bait pertama syair lagu Gending Sriwijaya, yang disusun oleh Nungcik AR pada tahun 1940-an Hingga hari ini kita di Sumatera Selatan masih banyak yang salah dalam memaknai dan memahami seputar tari Gending Sriwijaya. Seperti, dikatakan bahwa tari Gending Sriwijaya itu berasal dari masa Kerajaan Sriwijaya, atau tarian Gending Sriwijaya itu adalah tarian sakral bagi Sumatera Selatan, jadi tidak boleh dipergelarkan di ruang atau alam terbuka... uiii... uiii... uiii...!

    Sungai-Sungai yang Hilang

    Oleh : Nurhayat Arif Permana

    Kota Palembang berusia 1327 tahun, sejak dikukuhkannya Sriwijaya menjadi Kerajaan maritim terbesar di Nusantara. Selama rentang waktu tersebut, sudah banyak peristiwa bersejarah yang terjadi. Sebagian tercatat, sebagian lagi tercecer entah dimana.

    Mendokumentasikan tempat-tempat dan peristiwa bersejarah bisa dilakukan dengan berbagai ragam cara. Melalui catatan yang direkam melalui manuskrip, teks, simbol maupun gambar. Semua itu butuh perhatian, minat, maupun daya kerja yang kritis dan tak punya pretensi politis.

    Kini kota Palembang telah menjadi salah satu kota besar di Indonesia. Di masa kejayaan Nusantara, Palembang dikenal sebagai kota dengan seribu sungai. Rumah, bangunan-bangunan penting, dan transportasi dilakukan di atas serta lewat sungai. Moda transportasi adalah perahu, jukung, ketek dan kapal-kapal besar.

    Komunikasi antarmanusia juga dilakukan dengan tatacara "sungai" sehingga beribu tahun setelahnya, terbentuklah peradaban yang unik. Bahkan, ketika Belanda masuk ke Nusantara untuk melakukan ekspansi dagang, mereka melihat Palembang seolah-seolah seperti kota Venesia di Italia. Lalu –-entah serius atau olok-olok—mereka menjuluki Palembang sebagai “Venesia dari Timur.”

    Senin, 26 Desember 2011

    Mempertimbangkan Tari Gending Sriwijaya

    Oleh: TAUFIK WIJAYA *)

    SUDAH lama tari persembahan Gending Sriwijaya tidak dibicarakan. Beberapa tahun lalu di masa Orde Baru, tarian ini sempat dibicarakan hangat, sebab salah satu kreatornya dituduh merupakan aktifis komunis. Beberapa hari terakhir ini, tarian ini kembali dibicarakan sebab tidak ditampilkan dalam pembukaan Festival Sriwijaya ke-19.

    Hal ini jelas mengejutkan, sebab selama ini tari Gending Sriwijaya selalu ditampilkan dalam peristiwa kebudayaan tahunan tersebut.

    Awalnya, seperti yang lainnya saya juga terkejut. Namun, guna memperlebarkan wacana tersebut, setelah dipertimbangkan secara rasional, tidak ditampilkannya tarian tersebut menurut saya dapat diterima, sebab jika ditelisik secara mendalam ternyata tari Gending Sriwijaya itu masih perlu dipertanyakan nilai-nilai filosofis yang terkandung di dalamnnya, terkait dengan kebudayaan Sriwijaya.

    Pertanyaan pentingnya, benarkah tari Gending Sriwijaya itu merupakan karya seni berdasarkan tradisi dan diwariskan oleh kebudayaan Sriwijaya?

    Rabu, 21 Desember 2011

    Sekilas Tari Gending Sriwijaya dan Tari Tanggai



    Gending Sriwijaya merupakan tari spesifik masyarakat Sumatera Selatan untuk menyambut tamu istimewa yang berkunjung ke daerah ini, seperti kepala negara, kepala-kepala negara sahabat, duta-duta besar atau yang setara itu. Tari tradisional ini berasal dari masa Kerajaan Sriwijaya. Tarian yang khas ini mencerminkan sikap tuan rumah yang ramah, gembira dan bahagia, tulus terbuka terhadap tamu yang istimewa itu. Tarian digelarkan 9 penari muda dan cantik-cantik yang berbusana Adat Aesan Gede, Selendang Mantri, Paksangkong, Dodot dan Tanggai.

    Mengenal Adat Istiadat Palembang (Baso Palembang Alus/Bebaso)



    Sebagai salah satu kekayaan budaya Palembang dan sebagai jati diri Wong Kito (Melayu-Palembang), Baso Pelembang Alus (Bebaso) saat ini sudah hampir punah. Untuk itu perlu adanya usaha pelestarian dan mendokumentasikannya sebagai wujud kepedulian kita, diantaranya dengan mengadakan kursus atau menerbitkan buku kamur. Pepatah mengengatakan : "Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta."
    Untuk menumbuhkan rasa sayang dan cinta kepada Kota Palembang, terlebih dahulu kita harus mengenal sejarah dan budaya Palembang, termasuk dalam hal bahasa. Asal-usul Baso Pelembang Alus hampir menyerupai bahasa Jawa, oleh sebab itu banyak orang berasumsi bahwa bahasa Palembang berasal dari Jawa. Namun pada dasarnya tidaklah demikian, bahkan sebaliknya, identitas Palembang sebagai korabolasi dari kebudayaan Melayu-Jawa terlepas dari sejarah Palembang itu sendiri. Menurut sumber sejarah lokal, Kesultanan Palembang muncul melalui proses yang panjang dan berkaitan erat dengan kerajaan-kerajaan besar dipulau Jawa. Seperti Kerajaan Majapahit, Demak, Pajang, dan Mataram. Palembang (Melayu-Sriwijaya) pada masa lalu adalah cikal bakal berdirinya kerajaan-kerajaan dipulau Jawa.

    Selasa, 23 Agustus 2011

    Mengenal Adat Istiadat Palembang (Baso Palembang Alus/Bebaso).

    Sebagai salah satu kekayaan budaya Palembang dan sebagai jati diri Wong Kito (Melayu-Palembang), Baso Pelembang Alus (Bebaso) saat ini sudah hampir punah. Untuk itu perlu adanya usaha pelestarian dan mendokumentasikannya sebagai wujud kepedulian kita, diantaranya dengan mengadakan kursus atau menerbitkan buku kamur. Pepatah mengengatakan : "Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta."