Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Oktober 2012

Cerita Tutur Asal Mula Pempek



Ditemukan China Rakit, Tiru Bakso Daging
Pempek sudah sangat familiar. Makanan khas wong Plembang ini sudah diproduksi di Sumsel, terkenal hingga nasional dan mancanegara. Namun, tak banyak yang mengetahui bagaimana sejarah ditemukannya makanan dengan bahan daging ikan ini? Berdasarkan cerita tutur, pempek ternyata ditemukan warga China yang hidup di rumah rakit pada masa Kesultanan Palembang Darussalam. Benarkah?

Dulu, pempek bisa dikatakan makanan pinggiran. Banyak dijual oleh Pedagang Kaki Lima (PKL), Mereka berjalan atau bersepeda menelusuri jalan-jalan kecil di perkampungan. Pembelinya pun harus jongkok untuk menyantapnya. Kini, makanan ini masuk kategori elite. Ini setelah kian menjamurnya penjual empek-empek di pertokoan atau ruko.

Makanan ini kerap dijadikan oleh-oleh bagi wisatawan luar dalam jumlah besar. Tidak hanya skala nasional, termasuk luar negeri. Kuah berupa cuko pedas manis ibarat candu. Membuat siapa yang pernah mencicipinya, menjadi ketagihan dan terus mencari makanan ini.

Meski sangat populer di kalangan wong Plembang, Sumsel, nasional hingga mancanegara, tak banyak mengetahui asal mula ditemukannya makanan yang satu ini. Nah, dari keterangan Tokoh masyarakat Tionghoa, Fauzi Thamrin yang kini menjadi Dewan Kehormatan Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Sumsel, empek-empek yang akrab disebut pempek, dulunya ditemukan oleh orang China yang pada masa Kesultanan tinggal dirumah rakit.

“Cuma ini cerita turun temurun (cerita tutur,red) yang kami dapat dari orang-orang tua,” ungkap Fauzi Thamrin ditemui koran ini di kantor PSMTI, Jl Dempo Luar nomor 433, Rabu (2/11) lalu.

Pada edisi minggu lalu, Sumeks Minggu telah mengupas kehidupan di rumah rakit. Pada masa Kesultanan Palembang Darussalam abad ke 17 hingga 19, Sultan mengeluarkan kebijakan politik bagi para pendatang, terutama warga negara asing (WNA) untuk tinggal di rumah rakit.

Para pendatang ini, umumnya warga China dan Belanda. Dari kehidupan di rumah rakit inilah, warga China menemukan empek-empek. Cerita Fauzi Thamrin, seorang lelaki tua keturunan China menikah dengan seorang wanita campuran (China-Pribumi). Wanita inilah yang kemudian pertama kali mengeluarkan ide mencampurkan daging ikan dengan tepung sagu.

Diketahui, pada abad 17 hingga 19, anak-anak sungai Musi masih sangat banyak. Ikan didapat dari sungai ini pun sangat berlimpah. Biasanya, ikan didapat, oleh wong kito sebatas dibuat pindang atau digoreng. Oleh wanita keturunan China-Pribumi inilah, daging ikan dicampurkanya dengan tepung sagu.

Fauzi Thamrin menyakini, ide membuat pempek ini terinspirasi dari makanan khas negeri Tiongkok, yakni bakwan. Makanan ini berasal dari tepung yang bisa dicampur dengan daging sapi, babi, udang hingga ikan. “Cuma makannya dicampur kuah biasa. Dulu namanya bakwan. Sekarang disebut bakso daging,” jelas Fauzi.

Oleh sebab itu, Fauzi menyakini, pertama kali ditemukan jenis pempek dulunya seperti pentol bakso. Atau yang sekarang kita sebut dengan pempek ada’an. “Cuma, kalau bakwan itu agak kecil. Kalau pempek agak besar,” lanjutnya.

Nama pempek sendiri ada cerita sendiri. Sang suami yang menjadi penjual keliling, saat itu kemungkinan belum menemukan nama bagi makanan ditemukan istrinya. Oleh masyarakat yang hendak membeli makanan tersebut, warga hanya memanggil penjual dengan sebutan “pek”. Singkatan apek, yang sering melekat pada orang China. “Dari kata pek, pek itu jadilah nama pempek,” tegas Fauzi.

Terus Berkembang dan Bergeser
Pada perkembangannya, dibuat yang namanya cuko (terbuat dari gula merah, bawang putih dan cabe, red), pendamping pempek. Inilah pasangan paling pas menyantap pempek. Selain itu, jenis pempek yang dikenal saat ini, seperti pempek kapal selam (isi telor,red), lenjer, isi tahu, kerupuk, pempek kulit merupakan perkembangan. Termasuk pempek yang dikembangkan dengan kuah, dikenal dengan tekwan serta model. “Model itukan dari pempek isi tahu,” celetuk Fauzi.

Selain direbus, digoreng, divariasikan dengan kuah, pempek juga kini dipanggang. Itulah yang sekarang disebut dengan pempek panggang, termasuk lenggang. Atau diberi kuah santan yang sekarang disebut dengan celimpungan serta laksan. Ada juga yang namanya kerupuk kemplang, yang konon tercipta dari pempek yang awal tidak laku dijual, dijemur lalu digoreng.

Meski terus berkembang, pempek inipun mengalami perseran. Yang kasat mata, penggunaan ikan. Jika dulu identik dengan ikan belido, akibat sulitnya mencari ikan kelas satu ini, masyarakat menggunakan ikan gabus atau ikan delek yang umumnya hidup di rawa. Ikan laut seperti tenggiri, sarden pun kini juga sering digunakan. Bahkan, ikan apa saja pun asal bisa membuat pempek beraroma ikan digunakan orang.

Pempek Dempo, Tersisa Dari Rumah Rakit
Bicara masalah pempek memang banyak menjualnya. Termasuk orang-orang Jawa. Dari kaki lima hingga pertokoan. Namun, dari keterangan Fauzi dari sekian banyak penjual pempek, satu toko yang masih keturunan keturunan China rakit adalah Pempek Dempo, di kawasan Jl Lingkaran Dempo Luar, samping MDP.

Penjual di toko yang kerap disebut toko garasi (karena bentuk tokonya mirip garasi mobil,red) sudah ada sejak tahun 1986 lalu. Penjualnya pun orang China yang logatnya sudah seperti wong kito.

Toko pempek grasi ini masih menggunakan ikan belido atau ikan putak (belido ukuran kecil, red). Inilah yang membuat pengunjungnya tak pernah sepi. “Ikan belido atau putak itu tidak amis. Rasanya juga manis. Itu memang ikan kelas satu. Kami dapat dari dusun. Kalau gak dapat ikan ini, kami pilih tidak jualan,” ungkap penjualnya, Ali. (wwn)

Written by: Samuji Selasa, 08 November 2011 12:21 | Sumeks Minggu

Komplek Pemakaman Sabokingking



Dilalui Kapal Besar, Tempat Pertemuan Wali Serta Raja, Cukup banyak komplek pemakaman raja Palembang. Salah satu yang tertua dan cukup unik, komplek pemakaman Sabokingking, di kawasan I Ilir, Sungai Buah, Kecamatan Ilir Timur (IT) II.

Dari letaknya yang dikelilingi sungai, konon sebelum menjadi areal pemakaman, tempat ini merupakan tempat pertemuan. Para ulama serta raja Palembang. Wajar jika Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) Palembang menjadikan areal pemakaman Sabokingking menjadi objek wisata. Dari letaknya saja termasuk unik. Kawasan ini dikeliling perairan sungai. Yakni anak sungai Musi, sungai Buah.

Airnya pun hingga kini masih terjaga. Terlihat jernih, berbeda dengan anak-anak sungai Musi lain yang kebanyakan menghitam dan menimbulkan bau tidak sedap akibat sampah buangan masyarakat.

Keterangan juru kunci makam Sabokingking, Zulkifli Madinah, sebelum dinamakan dengan Sabokingking, nama tempat ini Istono Sobo. Yang berarti tempat pertemuan. Mereka yang sering melakukan pertemuan adalah ulama dan para wali.

Nama Istono Sobo berganti menjadi menjadi Sabokingking setelah para raja kerajaan Palembang ikut dalam pertemuan tersebut. Yang cukup mengejutkan, keterangan Ujang, sapaan akrab Zulkifli Madinah, para ulama serta raja itu pergi ke Sabokingking dengan menggunakan kapal-kapal besar.

Dilihat dari keadaan sungai Buah yang mengelilingi areal pemakaman saat ini, sulit dipercaya jika kapal-kapal besar dapat melalui sungai tersebut. Hanya saja, Ujang yang menggantikan ayahnya, Madinah Yahya sebagai juru kunci menyakini, pada abad ke 17, saat tempat tersebut digunakan sebagai tempat pertemuan, sungai Buah masih lebar dan dalam.

Bisa jadi, karena sejak dulu Palembang mendapat julukan Venesia dari Timur karena ratusan anak sungai Musi yang ada. Sehingga, para ulama berasal dari Yaman, Persia termasuk para raja yang istananya kala itu berada di kawasan PT Pusri dapat merapatkan kapal.

“Bukti kongkritnya, di daerah ini ada empat lorong yang dinamakan lorong Kemudi. Karena masyarakat pernah menemukan kemudi kapal besar di sungai,” jelasnya.

Era Ratu Sinuhun, Ciptakan UU Simbur Cahaya

Di dalam serta luar bangunan komplek, terdapat 41 makam. Di dalam, makam utamanya ialah makam Pangeran Ing Kenayan bersama istrinya Ratu Sinuhun serta Habib Muhammad Nuh yang merupakan guru besar dari Yaman dan menjadi penasehat kerajaan.

Makam lain, berada di tingkat bawah para hulubalang serta panglima Abdurahman. Nama yang satu ini, menurut Ujang selain sosok panglima perang juga merupakan ulama besar yang menyebarkan agama Islam di Palembang.

Pangeran Ing Kenayan serta Ratu Sinuhun sendiri berkuasa pada tahun 1622. Dilihat dari silsilah, termpampang di luar makam, antara Pangeran Ing Kenayan serta Ratu Sinuhun berada di satu garis keturunan. Mereka masih keturunan Ki Gede Ing Suro.

Ayah Ki Gede Ing Suro sendiri merupakan Sido Ing Lautan. Seorang bangsawan Jawa yang datang bersama pengikutnya ke Palembang pada abad ke 16. Kemudian ia digantikan oleh putranya yang bernama Ki Gede Ing Suro pada tahun 1552 dan mendirikan Kerajaan Palembang.

Pada masa pemerintahan Ratu Sinuhun sendiri, diyakini sebagai era diciptakanya UU Simbur Cahaya. Bahkan, Ratu Sinuhun inilah dikatakan sebagai pencipta UU tersebut. Yang mengatur masalah adat istiadat di Sumsel.

Berbagai masalah diatur dalam UU ini. Seperti adat bujang gadis dan perkawinan, marga dan aturan kaum, aturan dusun dan berladang, masalah pajak, serta hukuman. Pada masa penjajahan Belanda hingga kini pun, UU Simbur Cahaya masih digunakan.

“Salah satunya contohnya gotong royong. Istilah gotong royong itu berasal dari UU Simbur Cahaya,” ungkap Ujang.

Ratu Sinuhun sendiri kemudian dimakamkan di dekat suaminya, Pangeran Ing Kenayan yang lebih dulu meninggal. Setelah diikuti para pengikutnya.

Hingga kini banyak masyarakat dari berbagai penjuru berdatangan ke pemakaman ini. Untuk berziarah dan berdoa, meminta kepada Allah SWT melalui para ulama ini. Inilah yang menyebabkan masyarakat setempat terlihat banyak berjualan kembang untuk berziarah. Pengunjung lebih banyak pada Maulid Nabi dan bulan Suro.

“Bukan meminta kepada makam. Tapi melalui perantara ulama dan auliya’ ini. Doa itu kan lebih cepat dikabulkan jika melalui perantara orang yang dekat dengan Allah,” tandas Ujang. (wwn)

Written by: Samuji Selasa, 07 Juni 2011 11:25 | Sumeks Minggu

Sabtu, 24 Maret 2012

Danau OPI



Tak lengkap rasanya ke Palembang tanpa singgah dan menikmati wisata air di Danau OPI, Jakabaring. Pada awalnya, Danau OPI ini dibuat oleh pemerintah Kota Palembang untuk kegiatan PON dalam olah raga dayung. Panjangnya sekitar 517 meter dan lebarnya 200 meter. Kini, Danau OPI dipersiapkan untuk cabang olah raga layar dan jet sky untuk event olah raga Asia.